FSTVLST – PARADOKS DIAMETRAL
Album penuh ketiga FSTVLST
12 Tracks. III.I – III.XII
Executive Producer: FSTVLST
Music Producers: Roby Setiawan & Iga Massardi
Line Producer: Sirin Farid Stevy
Songwriters: Roby Setiawan & Sirin Farid Stevy (All Tracks)
Lyrics: Sirin Farid Stevy
Additional Writers: Danis Wisnu Nugroho (Track VIII), Hutama Mahdi Putra (Track II), Iga Massardi (Multiple Tracks)
Arrangement on Track XII: Muhammad Luthfi Adianto
Performed by FSTVLST
Roby Setiawan – Guitar
Danis Wisnu Nugroho – Drums
Humam Mufid Arifin – Bass
Sirin Farid Stevy – Vocals
Additional Musicians:
Hutama Mahdi Putra – Additional Keyboard & Synth
Fandi Kurniawan – Additional Guitar
Iga Massardi – Additional Guitar
Collaborator:
FSTVLST Kids & Badrus Zeman (Track IV)
Recorded at Rekam Kamar Studio, Klender, Jakarta Timur.
Recording & Mixing Engineer: Rama Harto.
Assistant Recording Engineer: Muhammad Luthfi Adianto (Track XII).
Mastered by Napat Khaopaisarn at Tree Recording Studio, Bangkok, Thailand.
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy, Hutama Mahdi Putra
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
FSTVLST
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy, Danis Wisnu Nugroho
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy, Humam Mufid Arifin, Danis Wisnu Nugroho, Hutama Mahdi Putra, Fandi Kurniawan
Lyricist:
FSTVLST
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy
Lyricist:
Sirin Farid Stevy
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi, Muhammad Luthfi Adianto
Songwriter:
Roby Setiawan, Sirin Farid Stevy, Humam Mufid Arifin, Danis Wisnu Nugroho, Hutama Mahdi Putra, Fandi Kurniawan
Lyricist:
FSTVLST
Producer:
Roby Setiawan, Iga Massardi
manifesto
hits hits kitsch kitsch
dua garis dua garis
paradoksal diametral
sihir sihir
antara langit bumi
yang lalu dan nanti
di antara yang di mimpi
dan yang nyata terjadi
terjebak di sini
antara takut dan berani
lanjut dan berhenti
di antara segala
paradoks diametral
kosong dan sunyi
manifesto
hits hits kitsch kitsch
dua garis dua garis
paradoksal diametral
sihir sihir
jika harus jadi maka jadilah
jika harus mati maka matilah
mengepak pelan
terbang ke bulan
mendarat di sisi gelapnya
(antara takut dan berani)
(lanjut dan berhenti)
syarat I adalah percaya
(di antara segala)
(paradoks diametral)
syarat II lihatlah syarat I
(kosong dan sunyi)
manifesto
hits hits kitsch kitsch
dua garis dua garis
paradoksal diametral
sihir sihir
semalam suntuk berdialektik
terdengar hebat
tumpah muntah berwacana
adu teori orgy diksi miskin arti
di kota menjelang runtuhnya
pergunjingan
yang tak berkesudahan
makin larut carut marut berlogika
riwayat panjang kegagalan
makin panjang saja
setelah diam, seruak pertanyaan
tentang kematian, arti kehidupan
ku cari di ujung malam
dan selepas hujan
ku dari utara merawat ingatan
ke selatan lintas jefferson
benteng belanda
dan penjara di taman
enam puluh lima macam malam
tertidur memimpikan
yang tersembunyikan
di tepi bulan sabit
ku nikahi ribuan cerita
yang telah digariskan
mencari di jejak khaki
dan pesan hati-hati
berserah pada langkah
yang menerka arah
janji alam tak akan berubah
nas tali pati niscaya kan terjadi
enam puluh lima macam mati
satu setengah juta
kan hidup kembali
di tepi sumur kapur
ku bersaksi cahaya Gusti
mereka sudah bekerja
di pagi buta
sementara engkau dan aku
masih membicarakan wacana
seruak tanya, cengkeram tanya
hidup yang berarti?
bukan sekadar tak mati?
mati yang berarti?
mesti yang terakhir kali?
enam akhirya
akarnya menjulang
berpancang imbang
dan manusia
manusia pertama
awali karmanya
jamas lima cahaya
asal langit yang tak terhingga
mewasiat segala warna, hong!
swarna kasihnya
hampar tanah terjanji
luas berpijar kini, hong!
empat kesaksian anak matahari
terjadi
sabda naya demi masa
benar kata kata
sabda naya demi masa
memegang kata-kata
demi enam masa demi masa
tiga gulita benderang
berulang berpasang
gelap dan terang, hong!
meluas meninggi
dua kali semakin tinggi
lebih luas lagi
lebih tinggi luas lagi
satu awalnya satu mulanira
kehampaan sempurna keesaannya
waktu itu kami kira
waktu itu entah
sejak kala itu berkala
kami percaya
bahwa millenia, era, abad, warsa,
masa, detik, dan segala sebutan
tentangnya sampai bagian mili,
nano, dan mikronya, akan selalu
hadir dan berpihak dalam
percaya,
demi masa
dari sungai sampai laut
segala buruk masih terus
berlanjut
bangunlah terhina dan yang lapar
sang surya bersinar cemerlang
kaum yang terbunuh
dan terusir dari tanahnya
algoritma diatur
sebegitu sempurnanya
terlalu banyak bendera
dan drama akrobat internasional
sisa dunia seakan berputar
ke arah yang sebaliknya
sisa-sisa manusia tertawa
kecerdasan buatan
mulai bermain Tuhan
industri kematian, seks,
dan perhatian
supremasi putih
menghajat layatan
perang ketiga mulai
diselenggarakan
warisan paska koloni
dipertahankan
citraan media jadi dasar pilihan
pasal-pasal baru
sarat kepentingan
negara dan dosa
yang tak terselesaikan
buih-buih tenggelam
semakin ke dalam
batu hitam mengapung
di permukaan
fantasi sains fiksi
placebo kenyataan
lontar-lontar yang
tak pernah dikembalikan
objek vital nasional
hajat sekalangan
kekuasaan yang
dipaksa langgengkan
tahta milik rakyat
jadi lahan rebutan
hal-hal ini terjadi
dlulu dan sekarang
(dari sungai sampai laut)
(segala buruk masih)
(dari sungai sampai laut)
(segala buruk masih)
dari sungai ke lautannya rumi
terik matahari dan teduhnya bodi
rumi clan bodi mungkin telah mati
tapi segala baik kan terus berarti
duel maut antara logika clan rasa
di dalam hati clan di kepala
satu tewas mengenaskan
selalu berjalan dalam bayangan
takut, ragu, dan gamang
berderet menantang
selalu berhadap dengan rasaan
lelah, sakit, clan sesak
mengiris menyayat
pada pasrah ku mintakan
Perlindungan
semuanya ku letakkan
lamat-lamat doa ku daraskan
di ujung kesudahan dunia
sudah jauh jaraknya
sampai kesudahan dunia
sekarang harus ke mana?
aku menuju rumah-Nya
semua akan baik-baik saja
senantiasa
aku menuju rumahku
seberapapun takutku,
raguku, gamangku
semua akan baik baik saja
seberapapun lelahmu,
sakitmu, sesakmu
semua akan baik
sejak primata berjalan tegak
dengan kedua kaki-kakinya
jelajahi rat tua
syahdan menafsir anima
menjawat api dan bahasa
peradaban bennula
sebelum manusia-manusia
pertama
sudah ada mereka
sebelum kita semua
saudara tua ajar bijaksana
yang terlupa kisahnya
bersila tenang pada akarnya
bersembah indah
dengan daun-daunnya
berdoa lewat air clan udara
berserah pada kehendak semesta
kemudian manusia-manusia itu
datang bersenjatakan
bara api nafsu
bakar indah teduhnya
bunuh penjaganya
saudara tua ajar bijaksana
saudara tua
yang terlupakan kisahnya
manusia lupa sang wreksa
manusia lupa kisahnya
belum lama aku terlahir kembali
kali ini menetap di tubuh ini
babak babak telah terlewati
ternyata sudah sampai di sini
masa depan di dalam ingin
masih kabar angin
adalah masa yang selalu mungkin
ku terima ku terrima
ku terima segala
yang sudah diterimakan
dalam rima semoga
ku akan diperjalankan
ku beranikan
mengizinkan diri untuk pulang
izinkan ku pulang
mengizinkan diri untuk pulang
izinkan ku pulang
blah blah blah
terdiam di tengah riuh siaran
curiga dengan niatnya
sesat ikut arahnya
lelah luar biasa
kata-kata tak lagi bermakna
seperti biasanya
kata-kata jadi frasa
frasa-frasa tanpa makna
tanpa makna tanpa rasa
tanpa rasa kata frasa
tak kan jadi mantra
tanpa rasa kata frasa
tidak akan jadi mantra
ku tak pernah
sekalipun punya rencana
mendengarkannya
pun jika pada akhimya
ikut tersesat juga
saatnya mungkin tiba
memutus putaran
di dalam lingkaran
hentikan racauan dalam pusaran
mantra-mantra ku rapal
lebih keras dari biasanya
blah blah blah
menuntaskannya
meski harus terbata-bata
menuntaskan cerita
meski tak selalu indah rimanya
memulai dan selesaikan
dua hal yang berbeda
hanya cukup berani saja
ternyata ku bisa ternyata biasa
seperti hari hidup yang lainnya
bisa, biasa, bisa
blah blah blah
sepertinya sudah sekujur raga
ku persembahkan semua
sepertinya sudah sepenuh
jiwa teruntukkan padanya
segala yang sempurna
tentunya tak akan pernah ada
segala yang jauh dari bijaksana
yang terbaik ku bisa
bersumpah mati
tak pernah menjadikannya arti
menanam makna
seakan tanam yang sia-sia
berulang kali
berangsur menggelap tiba-tiba
tak pemah berharap
datang cahaya dari-Nya
sudah seluruh raga dan jiwa
sudah jelajah, arung
dau tengadah
sudah semuanya
semakin menjauh
dari yang sebenarnya ku cari
semakin bertaruh
semakin tak berbuah arti
antara segala gelap
dan gamang mengambil sikap
tak pemah berharap
datang cahaya dari-Nya
cahaya dari-Nya
cahaya
sejauh apapun
terbang pergi mencari
ke penjuru matahari
dan di atas galaksi
kerinduan pada ibu
kerinduan sejati
segala yang kau cari
ada di dalam diri
sepertinya sudah
apa kabar satu masa
bernama bersama selamanya
apa kabar satu kawan
yang harus mengubah langkah
satu masa yang kita perjuangkan
satu kawan yang kita rindukan
apa kabar masa depan sempurna
yang pernah kita mimpikan
ada kabar satu kawan
melangkah baik saja
dengan pilihannya
yang sama terjalnya
sama juga menanjaknya
sama-sama beratnya
sama arahnya
berbahagia
dalam banyak hal ternyata
kita mungkin berbeda
karena banyak hal nyatanya
tak harus bersama
sampai jumpa lagi
di sempurnanya mimpi
melihat yang terpancar
gambar beresolusi rendah pudar
bernamakan masa depan
lumen kecil menerpa
dari arah jiwa
cukup hasilkan
khayalan-khayalan
dan bayangan tentang
masa-masa silam
semoga dekat serta bersinar
mendengar yang tersiar
sonar beresolusi rendah samar
bermakna masa silam
desibel kecil menerpa
dari arah jiwa
cukup hasilkan
bayangan-bayangan
dan khayalan tentang
masa-masa depan
semoga sempat serta sumunar
dalam bayang-bayang
masa depan dan silam
dari manakah datangnya fantasi
datang dari api
yang sinarnya terhalangi
menarilah fantasi
sekarang di sini
we skip the light fandango
skip the light fandango
dari manakah datangnya fantasi
datang dari api
yang sinarnya terhalangi
we skip the light fandango
poli fono fantasi
poli foto fantasi
poli fono fantasi
poli fono foto fantasi
we skip the light fandango
terima kasih
telah mengambil
mengambil keputusan
untuk mendukung
dulu, kini dan nanti
keputusan umur dua puluhan
berlanjut dua puluh tahunan
chord andalan teks pungutan
skill amatiran
sampai Tuhan tak berkenan
dalam naungan
hampir rock dan nyaris seni
sejak empat bangsat karib
dan anaknya
di fakultas seni rupa
jenny pentas hingar bingar hampa
festivalist berpestapora
kau tak harus hafal lirik lagunya
kau tak harus menafsir musiknya
tak ada yang harus
saat kita bersama
rayakan saja
dari jogjakarta kami menyapa
membawa berita
mengisahkan cerita
bersama semua yang serupa
aku dan kau dan mereka
kita semua setara
© FSTVLST. PARADOKS DIAMETRAL. 2026. All rights reserved.
Untuk mendapatkan kabar terbaru dan lebih awal tentang FSTVLST, silakan bergabung di WhatsApp Channel FSTVLST DOKSTRAL